Thursday, December 17, 2009

matematik dan islam


Matematik tidak hanya memiliki nilai kebenaran bukti tapi juga nilai keindahan yang agung. Saya kagum dengan ungkapan Bertrand Russel mengenai matematik, “Suatu keindahan, bagai ukiran, tanpa memohon belas kasih bantuan alam, tanpa keindahan muzik yang menjerat dan memikat, keindahannya murni dan agung, mampu menuju kesempurnaan, sungguh merupakan seni teragung yang pernah dimiliki oleh seni itu sendiri.”

Kemudian saya tertegun dengan ulasan St Augustine, pemikir Kristian terkemuka abad pertengahan, “Pemeluk Kristian yang baik dan taat harus menghindari ahli Matematik. Bahaya besar telah tiba kerana para ahli Matematik telah mengadakan akad dengan syaitan untuk menggelapkan jiwa manusia dan mengurungnya dalam ikatan neraka.”

Tak kalah garang, para hakim agung Rom membuat slogan hukum, “Dalam mempelajari geometri, ilmu yang tercela dan terkutuk seperti matematik adalah haram hukumnya.”

Dua belas abad kemudian, Ahmad Sirhindi menjuluki ahli matematik sebagai orang idiot dan para pemujanya lebih tolol dan hina kerana dia mengira bahawa matematik dan mempelajari matematik tidak ada manfaatnya untuk kehidupan manusia kelak di akhirat nanti.

Kecaman keras terhadap matematik ini terjadi pada zaman medieval yang terkenal obscure, dogmatic, dan irrasional. George Sarton membahagi History of Science dalam beberapa zaman, setiap zaman berasosiasi pada seorang pemikir ternama, dan berakhir pada setiap setengah abad. Dari 450 BC sampai 400 BC adalah era Plato, dari 400 sampai 350 BC adalah era Aristotle, dan seterusnya.

750 M sampai 1100 M adalah merupakan zaman di mana dalam kurun 350 tahun secara keseluruhan peradaban dan ilmu dikuasai oleh dunia Islam, zaman yang tak terkalahkan secara berturut-turut muncul nama-nama dari Jabir, al-Khawarizmi, ar-Razi, al-Mas’udi, al-Wafa, al-Biruni. dan Umar Khayyam. Dan hanya setelah abad ke-11 M barulah muncul nama-nama seperti Gerard dan Roger Bacon. Tapi kehormatan atas ilmu masih disandang ulama-ulama Muslim dalam kurun dua abad berikutnya yaitu Ibn Rushd, Nashiruddin at-Thusi, dan Ibnu Nafis.

Namun setelah 1350 M umat Islam tenggelam dalam samudra dogmatik yang hanya memunculkan beberapa ilmuwan handal pada abad 15 M.

Sejarah mengungkapkan fakta bahawa kepintaran saintifik selalu diiringi dengan perkembangan matematik. Pada kenyataanya penemuan-penemuan matematik telah memuluskan jalan menuju kemajuan menakjubkan dalam sejarah ilmu dan teknologi. Tidak ada satu negara pun yang pernah mencapai kejayaannya tanpa penguasaan matematik. Ketika umat Islam mendominasi dunia sains, mereka sangat hebat dalam matematik.

Musa Al-Khawarizmi (780-850 M) merupakan salah satu dari scientific minds of Islam, yang mempunyai pengaruh dalam pemikiran Matematik lebih dari ilmuwan abad pertengahan manapun. Dia tidak hanya menyusun buku aritmetik, namun juga jadual-jadual astronomi. Magnum opus-nya Hisab al-Jabr wa-l-Muqabalah telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan digunakan selama empat abad sebagai buku panduan utama dalam mata kuliah aljabar di universitas- universitas terkemuka di seluruh Eropah.

Dengan mengenalkan jumlah yang tidak diketahui kemudian menemukannya, aljabar pemula bagi berbagai penemuan; the be-all dan end-all dari semua ilmu sains.

Penyair ternama dan juga ahli matematik yang handal, Omar Khayyam (1048-1122 M) dan Nashiruddin at-Thusi (1201-1274 M) menunjukkan bahawa setiap pembesaran rasio, yang sepadan mahupun tidak, adalah bilangan, rasional mahupun irrasional. Dan teori tersebut kemudian secara pelan dan lambat menuju kesempurnaannya disaat bermulanya zaman renaissans di Eropah.

Iqbal, pemikir kenamaan asal Pakistan memuji at-Thusi kerana telah melontarkan pertanyaan terhadap postulat Euclidean atas pararelisme. Omar Khayyam merupakan ilmuwan pertama yang membuktikan bilangan dari teori geometri bukan-Euclidean yang nantinya ditemukan oleh Bolyai-Lobachevsky, Riemann, dan Gauss secara terpisah selama pertengahan abad 19 M.

Omar Khayyam telah mendahului sejak 7 abad sebelum mereka, yang mana di kemudian hari, Einstein menggunakan geometri bukan-Euclidean untuk mengantarkannya pada “dunia baru” dalam bidang sains. Tidak ada petunjuk dan rumusan yang tidak dipecahkan oleh Umar Khayyam. Beliau juga mulai menggunakan grafik untuk mengkombinasi aljabar dan geometri untuk membuktikan persamaan kubik.

Pasti akan selalu diingat bahawasannya seorang geliga bernama Descartes yang kemudian memperagakan the tour de force dari kombinasi aljabar dan geometri, bersamaan dengan penemuan filsafat barunya dengan diktumnya yang terkenal, “cogito ergo sum”.

Belum ada lagi pemikir dunia Muslim yang mengikuti jejak Umar Khayyam dan menguatkan rasionalisme, kerana Imam Ghazali telah “terlanjur” menulis Tahafutul Falasifah. Memang, Ibnu Rushd kemudian juga menulis Tahafut at-Tahafut. Namun sayangnya dunia Muslim menolaknya, sebaliknya orang Eropah berebut mengambilnya. Orang Eropah menjadi averoist; pengikut setia Ibn Rushd.

Al-Biruni sukses dengan the idea of function, yang mana menurut Spangler, adalah simbol barat yang mana tidak ada peradaban lain yang bisa memberikannya walaupun hanya sekedar petunjuk dan gambaran. Idea fungsi yang dilontarkan al-Biruni mengenalkan konsep inter-dependence dan gerakan, melihat dunia sebagai sebuah kumpulan proses inter-dependence.

Konsep ini merupakan konsep dialektik. Namun lagi-lagi disayangkan bahawa umat Islam tidak boleh mengembangkan embrio yang pintar tersebut, dan akhirnya konsep tersebut beku selama berabad-abad kerana umat Islam terbuai dalam lantunan dogmatisme dan ketidakrasionalan. Embrio tersebut baru muncul dan lahir kembali tatkala tersentuh oleh peradaban barat, sungguh ironis. Ide yang dinamik tidak akan pernah maju dalam lingkungan masyarakat yang statis.

Akhirnya, pada abad ke 17 M, secara tragik namun desisif, keagungan sains berputar “melawan” dunia Muslim, sungguh sayang.

Geometri Descartes diterbitkan pada tahun 1637 M. Ahmad Sirhindi meninggal pada tahun 1624 M, namun dia sudah terlanjur mengutuk matematik dengan ungkapan yang tegas dan lugas. Dengan mengecam matematik, kita telah melangkah jauh keluar dari barisan ilmu sains dan teknologi.

Satu per lapan dari ayat-ayat Al-Qur’an menekankan tadabbur, tafakkur, dan ta’aqqul. Implikasinya adalah bahawasanya Al-Qur’an menjunjung tinggi keagungan akal. Tatkala kita menolak akal dengan mudah kita akan menjadi korban obscurantism dan dogmatisme. Paradigma kita masih lagi seperti Zaman Pertengahan Eropah. Islam telah menjalani transformasi dari revolusi aljabar menuju stagnasi aritmetik.

Tidak akan pernah berkembang matematik dan ilmu sains serta teknologi kecuali apabila dan hingga weltanshauung kita telah bersandar pada asas tafakkur, tadabbur, dan menjadikan ta’aqqul sebagai penjaga “pintu masuk” dunia Islam.

Islam bukanlah sistem yang tertutup sebagaimana pandangan kaum ortodoks. Kerana hal tersebut malah akan mencoreng citra Islam sebagai agama yang universal “rahmatan lil ‘alamin”. Islam adalah keimanan dimana Tuhan menyediakan manusia sesuatu yang baru, pada tiap paginya, “sarapan” yang bisa menjadi penyelesai masalah bagi berbagai permasalah-permasal ahan baru yang muncul saat itu.

Sebagaimana yang telah tertera dalam Al-Qur’an, setiap masa memiliki kemuliaanya. Dan pada akhirnya, Islam telah menghubungkan dirinya kepada keagungan Tuhan dan di akhir yang lain kepada diversity of humankind (keberagaman manusia). Di sini, pluralisme adalah merupakan kekuatan dinamiknya.

Titisan Air mata


Titisan Air Mata

Salam kalian semua teman-teman di Scripters..

Rasullulah bersabda, "Tiada suatu yang lebih kusukai dari dua tetesan, yaitu titisan darah yang tumpahan darah karena jihad fisabilillah dan titisan air mata yang mengalir karena rasa takut dan rindu kepada Allah"� (HR Turmudzi). Dalam riwayat lain, "Tiada setetes yang lebih disukai Allah 'Azza wajla daripada setitis darah di jalan Allah"�. (HR Aththahawi). Betapa mahalnya titisan air mata yang mengalir itu karena ibadah, titisan air mata itu menjadi benda berharga. Di tengah-tengah kehidupan yang serba mekanis dan teoritis, fatwa-fatwa pun sudah tidak terdengar bijak dan nyaman untuk didengar kita. Fatwa itu tidak menyentuh lagi, karena banyak yang diobral dan menggombal, bahkan diintrik-intrik oleh muatan politik. Hampir saja kita kehilangan potensi diri.

Di tengah-tengah kehidupan itu, pernahkah kita, barang sekali, menjerit, menumpahkan air mata ketika kita bangun di tengah malam, mengadukan hidup yang penuh dengan nista dan dosa ini kepada Dia yang Maha Rahmat? Ibarat tanah yang gersang, padang yang kering semua, tetumbuhan yang layu, maka datanglah rintik hujan jatuh dari langit, begitulah air mata penyesalan, air mata kerinduan, air mata manusia yang tawadhu "dan para penaka yang bertaubat, bagaikan menghapus "kegersangan" jiwa yang nista tadi. Jiwa yang layu menjadi tegak dan tumbuh kembali optimisme, kegelisahan qalbu yang gersang dengan bergagai nista, kini pupus, bagaikan debu-debu yang hanyut terbawa arus.

Rasullulah S.A.W.. kekasih Allah, merengguk menumpahkan air mata, karena penuh harap untuk jumpa denga-Nya? Sayyidina Abu Bakar ash-Shidiq ra. senantisa menangis ketika menegakkan shalat? Mereka adalah manusia pilihan Allah. Mereka adalah orang-orang yang punya derajat tinggi di depan Allah.Dalam Suatu hadis seusai shalat (fardu) Rasullullah S.A.W.. beristighfar kepada Allah tiga kali, "Ya Allah Engkau Maha Pemberi ketentraman dan perdamaian. Dari Engkaulah datangnya ketentraman dan perdamaian, wahai Rabb yang Maha Memiliki keagungan dan kemulyaan."� (H.R.Muslim).

Bagaimana dengan kita? Pernahkah kita seperti manusia pilihan Allah itu? Tatkala kita lahir, kita menangis dan orang-orang di sekeliling kita tertawa terbahak-bahak bahagia karena menyambut kedatangan kita, maka ketika kita mati nanti, jadikanlah kita tertawa bahagia karena akan jumpa dengan Allah Sang Maha Kekasih, walaupun orang-orang yang kita tinggalkan menangis pilu karena kehilangan anggota keluarga yang mereka cintai.

Sesungguhnya, menangis di dunia itu lebih baik bagi kita ketimbang kita menangis di akhirat nanti. Sebab itu, sudah sepantasnyalah setiap kita waspadai diri, agar kita terhindar dari kegersangan jiwa yang nista, agar kita terhindar dari tipe manusia yang tidak tahu bertaubat. Padahal Rasulullah bersaba, "Tidak akan masuk ke dalam neraka seorang yang menangis karena takut kepada Allah"� (HR.Tirmidzi dan Abu Hurairah ra).

Kita mengarungi samudra dunia, bukan untuk tenggelam terpikat oleh ilusi fatamorgana. Kayuhlah biduk kehidupan kita, dan seberangi samudra dunia untuk mencapai tujuan abadi surgawi. Kerahkan seluruh potensi untuk tetap survive dalam perjuangan menembus badai samudra, sesekali kita boleh menyelam, tetapi ingatlah! Tujuan kita bukan untuk mati tenggelam, tetapi tujuan kita yang hakiki adalah mencapai pantai kebahagiaan sebagai ultimate goal dari segala makna yang kita berikan untuk kehidupan.

Kita tengok wajah kita setiap hari di muka cermin, bersolek dan hiasi tubuh kita, tetapi jangan lupa menengok pigura ruhani kita. Hiasi dan percantik qalbu itu, adakah hari ini iman kita lebih baik dari hari kemarin? Adakah prestasi amal kita lebih baik menyongsong hari-hari yang semakin singkat dan pendek. Lahir, hidup, mati, kemudian dilupakan orang! Tergolek abadi menanti pengadilan akhir dari kehidupan yang panjang.

Ya Allah apa yang telah diperbuat oleh hamba selama ini? Jawabannya ada dalam dada masing-masing. Apakah hamba hanya mengumpukan dosa dan menanti kematian? Jawabannya, entahlah, hati kita yang menjawab dengan lancar walaupun lidah terdiam malu. Anas ra. berkata, "Pada suatu hari, Rasullulah Saw. berkhutbah, belum pernah saya mendengar khutbah seperti ini, lalu beliau bersabda, "Andaikan kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis." Mendengar ucapan Rasullullah ini, seluruh sahabat menutup mukanya masing masing sambil menangis tersedu-sedu"� (HR.Bukhari- Muslim).

Alah berfirman dalam QS an-Najm ayat 59-60, "Apakah setelah mendengar keterangan ini, engkau merasa heran lalu tertawa dan tidak menangis?"� Selanjutnya dalam QS al-Isra: 109, Allah berfirman, "Dan sujudlah/tersungkurlah mereka sambil menangis, dan mereka bertambah khusuk."� Oleh sebab itu, menangislah sebelum datang hari dimana engkau akan ditangisi.

Panduan Bagi Orang Yang Diuji

Panduan Bagi Orang Yang DiujiJustify Full

Hadith :

Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya “Tidak ada keberanian yang paling disukai oleh Allah S.W.T selain dari keberanian hamba menahan kemarahan. Tidaklah seorang hamba itu menahan kemarahannya melainkan Allah S.W.T. akan mengisi dadanya dengan keimanan.”

Riwayat Ibn Abi Dunya

Huraian

Pengajaran Hadis:

i) Menahan perasaan marah, memaafkan kesalahan orang lain dan berlaku ihsan adalah antara sifat yang mesti dipupuk dalam diri setiap manusia kerana ia boleh menambahkan keimanan.

ii) Marah umumnya menunjukkan sifat seorang yang lemah kerana gagal mengawal emosinya sendiri. Ia merupakan tabiat yang sukar dihapuskan. Apabila marah, kedua mata menjadi merah, urat leher pula kelihatan timbul. Oleh itu Rasulullah mengatakan bahawa kemarahan itu adalah bara api di dalam hati anak Adam dan ia datangnya daripada syaitan yang dijadikan daripada api di mana api hanya dapat dipadamkan dengan air. Maka Rasulullah s.a.w menasihatkan apabila marah, hendaklah seseorang itu berwudhuk (mengambil air sembahyang).

iii) Imam al-Ghazali pula berkata:” Kemarahan manusia itu bermacam-macam. Setengahnya cepat marah tetapi cepat tenang. Setengahnya pula lambat marah dan lambat pula tenang dan setengah yang lain pula, lambat marah tetapi cepat tenang. Maka yang ketiga inilah yang paling terpuji.”

iv) Tidak semua kemarahan itu dilarang oleh Islam. Marah perlu ada terhadap perkara yang tidak disukai yang menyalahi kebenaran sebagaimana yang diajarkan oleh agama atau perkara yang terang-terang dilarang agama di mana kita dilarang mendiamkan diri jika kehormatan peribadi dan agama dihinakan.

Wallauhualam

missing girl!!


Siri Posting... NEED ALL HELP..!!!!
Salam To All My Friends.. ANYBODY SEE HER??.. IF ONE OF U SEE HER PLEASE CALL THE NUMBER ON THE PHOTO.. PLEASE..PLEASE.. BANTULAH KELUARGANYA SEDAYA YANG BOLEH.... HARI INI HARI MEREKA... SEBARKAN GAMBAR INI... MAY ALLAH SAVE THE GIRL... Sincerely..

Kalau Tak Suka Pulangkan Balik

Kereta dihentikan betul-betul di hadapan rumah. Pintu pagar automatiknya terbuka. Perlahan kereta di halakan ke dalam garaj. 'Horey! Papa balik!' Kelihatan anak-anaknya berlari mengiringi keretanya.
'Tepi! Bahaya tau tak?' Jeritnya.

Anak-anak termanggu. Cahaya kegembiraan di wajah mereka pudar.

'Aimin bawa adik ke belakang.' Arahnya pada anak yang sulong.

Pulangnya petang itu disambut dingin oleh anak-anak. Isterinya turut terdiam bila mendengar anak-anak mengadu tentang papa mereka.

'Papa penat. Aimin bawa adik mandi dulu. Mama siapkan minum petang. Lepas minum papa mesti nak main bola dengan kita,' pujuk Laila.

Dia yang mendengar di ruang tamu hanya mendengus. Seketika kemudian terdengar hilai tawa anak-anaknya di bilik mandi. Dia bangun.

'Hah! Main air. Bil bulan ini papa kena bayar dekat seratus. Cepat! Tutup paip tu! Buka shower!' Sergahnya. Suara yang bergema mematikan tawa anak-anaknya. 'Asal saya balik rumah mesti bersepah. Kain baju berselerak . Apa awak makan tidur aje ke duduk rumah?' sambungnya kembali bila isterinya terpacul di belakang pintu.

'Anak-anak pa. Diorang yang main tu. Takpe nanti mama kemas. Papa minum ye. Mama dah siapkan kat taman.' Balas isterinya lembut.

'Fail saya kat depan tu mana?'

'Mama letak dalam bilik. Takut budak-budak alihkan.'

'Boleh tak awak jangan usik barang-barang saya? Susah tau tak? Fail tu patutnya saya bawa meeting tengahari tadi.' Rungutnya sekalipun di hati kecil mengakui kebenaran kata-kata isterinya itu. Suasana sepi kembali. Dia menarik nafas berat. Terasa begitu jauh berbeza. Dia tercari-cari riuh suara anak-anak dan wajah isterinya.

'Laila…' Keluhnya Akhirnya dia terlena di sofa.

'Saya nak ke out station minggu depan.'

'Lama?' Soal Laila.

'Dalam seminggu.'

'Cuti sekolah pun lama. Mama ikut boleh?'

'Budak-budak?'

'Ikut jugalah.'

'Dah! Takde! Takde! Susah nanti. Macam-macam diorang buat kat sana . Tengok masa kat Legacy dulu tu…'

'Masa tu Amirul kecik lagi.' Balas Laila. Wajahnya sayu. Dia masih berusaha memujuk biarpun dia tahu suaminya tak mungkin berganjak dari keputusan yang dibuat. Tak mungkin peristiwa Amirul terpecahkan pinggan di hotel dulu berulang. Anak itu masih kecil benar sewaktu ia berlaku. Lagipun apa sangatlah harganya pinggan itu malahan pihak hotel pun tak minta ganti rugi. ' Bolehlah Pa ! Lama sangat kita tak ke mana-mana.' 'Nak jalan sangat Sabtu ni saya hantar awak balik kampung,' Muktamad! Demikianlah seperti kata-katanya.

-------------------------------------

Anak-anak dan isterinya dihantar ke kampung. Laila tak merungut apa-apa meskipun dia tahu isterinya berkecil hati. Anak-anak terlompat riang sebaik kereta berhenti di pengkarangan rumah nenek mereka. Tak sampai setengah jam dia telah bergegas semula untuk pulang. Bapa mertuanya membekalkan sebuah kitab lama.

'Cuba-cubalah baca. Kitab tu pun abah ambil dari masjid. Dari mereka bakar abah ambik bagi kamu!'

'Manalah saya ada masa..' 'Takpe..pegang dulu. Kalau tak suka pulangkan balik!' Dia tersentak dari khayalannya. 'Kalau tak suka pulangkan balik!' Kata-kata itu bergema di fikirannya. Dia rasa tersindir. Tahukah bapa mertuanya masalah yang melanda rumahtangganya itu? Bukan..bukan tak suka malah dia tetap sayang sekalipun Laila bukan pilihannya. Dunia akhirat Laila adalah isterinya. Cuma.. 'Mizi, makan!' Panggil ibunya yang datang menemaninya sejak seminggu lalu. 'Jangan ikutkan hati. Yang sudah tu sudahlah.' 'Papa! Makan!' Jerit Aiman ,anak keduanya sambil tersengih-sengih mendapatkan dirinya. 'Tak boleh panggil papa elok-elok. Ingat papa ni pekak ke?'

Aiman menggaru kepalanya yang tak gatal. Pelik! Kenapa papanya tiba-tiba saja marah. Dia berpatah semula ke dapur.

'Awak masak apa?'

'Mama masak sup tulang dengan sambal udang!' jawab Amirul memotong sebelum sempat mamanya membuka mulut.

'Takde benda lain ke awak boleh masak? Dah saya tak nak makan. Hilang selera!'

'Papa nak ke mana?' Soal isterinya perlahan.

'Keluar!'

'Mama dah masak Pa!'

'Awak saja makan!'

'Takpe Aiman boleh habiskan. Cepatlah ma!'

Laila tahu Aiman hanya memujuk. Anak keduanya itu sudah pandai mengambil hatinya. Aimin tersandar di kerusi makan. Sekadar memerhati langkah papanya keluar dari ruang makan. 'Kenapa sekarang ni papa selalu marah-marah ma?' Soal Aimin sambil menarik pinggannya yang telah berisi nasi. 'Papa banyak kerja agaknya. Dah! Makan.' 'Abang tak suka tengok papa marah-marah..' 'Adik pun sama. Bila papa marah muka dia macam gorilla kan ?'

Kata-kata Aiman disambut tawa oleh abang-abangnya yang lain. Laila menjeling. Di hati kecilnya turut terguris Besar sangatkah dosanya hingga menjamah nasi pun tidak. Kalau ada pun salahnya, apa?

----------------------------------------------------------

Syamizi menjengah ke ruang dapur. Kosong.

'Laila..' serunya

'Sudahlah tu Mizi! Jangan diingat-ingat. Kerja Tuhan ni tak dapat kita tolak-tolak. Bawak-bawaklah beristighfar. Kalau terus macam ni sakit kau nanti.' Kata ibunya yang muncul tiba-tiba.

'Sunyi pulak rumah ni mak,'

'Lama-lama kau biasalah.'

Airmatanya menitis laju. 'Kalau tak suka pulangkan!' Dia rasa terhukum. Hampir segenap saat kata-kata itu bergema di sekitarnya. Dia rasa terluka. Kehilangan yang amat sangat.

---------------------------------------------------------

'Papa beli apa untuk Aiman?' Soal Aiman sebaik dia pulang dari outstationnya.

'Beli apa pulak? Barang permainan kan bersepah dalam bilik belakang tu.'

'Tak ada lah?'

'Ingat papa ni cop duit?'

Aiman termanggu. Dia berlalu mencari mamanya di dapur. Seketika kemudian rumah kembali riuh dengan telatah anak-anak lelakinya yang bertiga itu mengiringi mama mereka yang sedang menatang dulang berisi hidangan minum petang.

Wajah Laila direnungnya. Ada kelainan pada raut itu. Riaknya tenang tapi ada sesuatu yang sukar ditafsirkannya. 'Awak tak sihat ke?'

Laila tersenyum. Tangannya pantas menuang air ke cawan.

'Papa, tak lama lagi abang dapat adik lagi.' Aimin mencelah di antara perbualan kedua ibu bapanya.

Shamizi tersenyum. Jemari isterinya digenggam erat. Tiba-tiba cawan berisi kopi yang masih panas terjatuh dan pecah di lantai. Aiman tercegat.

'Tengok! Ada saja yang kamu buat. Cuba duduk baik-baik. Kalau air tu tak tumpah tak sah!' Tempiknya membuatkan anak itu tertunduk ketakutan. Baju mamanya dipegang kejap.

Lengan Aiman dipegangnya kuat hingga anak kecil itu mula menangis. Pantas saja akhbar di tangannya hinggap ke kepala anaknya itu. Laila cuba menghalang tapi dia pantas dulu menolak isterinya ke tepi. Aiman di pukul lagi. Amirul menangis. Aimin mendapatkan mamanya.

'Perangai macam beruk! Tak pernah buat orang senang!'

Laila bangun dari jatuhnya dan menarik lembut Aiman ke dalam pelukkannya. Airmata mereka bersatu. Pilu sungguh hatinya melihat kekasaran suaminya terhadap anak-anak.

'Cukuplah pa. Papa dah hukum pun dia tapi janganlah sebut yang bukan-bukan.' Ujar Laila perlahan

'Macamana awak didik budak-budak sampai macam ni teruk perangainya? Tengok anak orang lain ada macam ni? Anak kak Long tu tak pulak macam ni. Panjat sana , pecah barang. Gila apa?' Omelnya kembali.

Shamizi meraut wajah. Bukan kepalang salahnya pada Aiman. Padanya anak itu tak pernah dapat memuaskan hatinya. Ada saja salah Aiman di matanya. Ada saja yang kurang di hatinya terhadap anak-anak dan isteri. Tak cukup dengan perbuatan malah dia begitu mudah melemparkan kata-kata yang bukan-bukan terhadap mereka.

'Tak boleh ke kamu semua senyap? Dalam sehari ni boleh tak diam? Rimas betul duduk dalam rumah ni.' Laila menyuruh anak-anaknya bermain di halaman belakang rumah. Memberi sedikit ruang buat suaminya menonton dengan tenang. Malangnya tak lama kemudian kedengaran bunyi tingkap kaca pecah. 'Celaka betul!' Sumpahnya sambil menghempaskan akhbar ke meja. 'Abang!'

'Baik awak tengok anak-anak awak tu sebelum saya hambat dengan rotan! Perangai satu-satu macam tak siuman!' Getusnya kasar.

Akhirnya tingkap yang pecah kembali diganti. Cerita sumpah seranahnya petang itu hilang begitu saja. Laila berubah. Sikapnya yang pendiam menjadi semakin pendiam. Anak-anak juga sedikit menjauh. Tak ada lagi cerita Amirul di tadika. Tak ada lagi kisah Aimin yang cemerlang di dalam sukan sekolahnya. Aiman juga tak lagi mahu memanggilnya makan.

Shamizi terasa puas hati. Barangkali itu saja caranya untuk memberi sedikit pengajaran pada anak-anak.

-----------------------------------------------------

'Pak Ngah, Eddie nak balik!' Shamizi terpana. Dia mengangguk. 'Kak Long balik dulu Mizi. Sudahlah! Kamu muda lagi. Cari pengganti.' Alangkah mudahnya. Kalaulah dia boleh bertemu lagi yang serupa seperti Laila. Laila tak ada yang kurang Cuma dia yang tak pernah puas hati. Laila tak pernah merungut. Laila tak pernah membantah. Sepanjang usia perkahwinan mereka Laila tak pernah meminta lebih dari apa yang dia beri. Laila cuma dapat gred B walaupun dia teramat layak untuk mendapat gred yang lebih baik dari A.

'Papa nak ke mana hensem-hensem gini?' Dia tersenyum sambil menjeling ke cermin meninjau bayang isterinya yang kian sarat. 'Wangi-wangi lagi. Dating ye?'

'Saya ada makan malam di rumah bos besar. Dia buat makan-makan untuk staff.' Ujarnya masih leka membetulkan kolar kemeja batiknya.

'Ikut boleh?'

'Dia tak ajak family. Staff only!' Terangnya sedangkan difikirannya terfikir lain. Kali ni dia akan pergi ke jamuan tu dengan Helmi. Helmi akan turut menumpangkan Maria dan Harlina. Staff yang masih muda dan bujang. 'Dalam setahun papa selalu ke jamuan office tapi tak pernah pun bawak kami.'

'Leceh kalau ada budak-budak. Bukan tau duduk diam Lari sana sini, panjat itu ini. '

'Papa pesanlah..'

'Nantilah besar sikit.' Dalihnya.

'Kalau tunggu besar takut takde peluang. Nanti diorang tu dah tak nak ikut pergi mana pun.'

'Lagi senang. Saya kalau lasak-lasak ni buat hati panas je,'

Laila terdiam. 'Namanya budak-budak. Anak-anak papa tu lelaki.'

'Saya pergi kejap je. Lepas tu terus balik.' 'Mama tanya sikit boleh?' Dia mengangguk 'Bos tak pelawa atau papa malu nak bawa mama dan anak-anak?'

Mereka dia tinggalkan di rumah. Di jamuan tu ramai staff yang membawa keluarga mereka bersama. Pada Shamizi dia mahukan keselesaan sedangkan hakikatnya anak-anak staff yang lain lebih lasak dan nakal. Semeja hidangan untuk anak-anak staff berderai bila ada yang bermain tarik-tarik alas kainnya.

'Never mind. Budak-budak memang macam tu. Kalau tak lasak tak cerdik,' ujar Mr. Kwai, tuan rumah.

Shamizi sedikit mengakui kebenaran kata-kata itu. Anak-anaknya pun nakal tapi amat membanggakan dalam pelajaran. Namun dia rasa serba tak kena bila bersama mereka. Bimbang ada yang menyata yang bukan-bukan tentang anak-anaknya yang lasak apatah lagi tentang isterinya Laila. Bimbang dimalukan dengan perangai anak-anaknya. Bimbang jika dikatakan Laila tidak sepadan dengan dirinya. Dia lulusan luar negara sedang Laila cuma perempuan kampung. Tak pandai bergaya seperti staff wanita yang lain. Betullah jangkaan Laila, dia malu untuk memperkenalkan isteri dan anak-anaknya pada rakan-rakan.

'Kalau tak suka pulangkan!' Kata-kata itu semakin keras di fikirannya. Pagi itu anak-anak sekali lagi dimaki sebelum ke sekolah. Semata-mata bila Aimin dan Aiman bergelut berebutkan tempat duduk di meja makan menyebabkan air cuci tangan tumpah ke meja. Berangnya tiba-tiba menguasai diri. Kepala kedua-duanya di lagakan sedangkan perebutan itu tidak pula disusuli dengan perkelahian. 'Kamu semua ni..kalau macam ni daripada ada elok tak ada. Menyusahkan!' Laila merenungnya dalam.. Matanya berkaca dan anak-anak ke sekolah tanpa menyalaminya seperti selalu. Laila juga tidak berkata apa-apa sebelum menghidupkan enjin untuk menghantar anak-anak ke sekolah. Shamizi dapat melihat Laila mengesat airmatanya. Dia terus menghadapi sarapannya. Sejenak dia terpandang hidangan untuk anak-anak yang tak bersentuh. Susu masih penuh di cawan. Roti telur yang menjadi kesukaan anak-anak juga tidak dijamah. Bekal di dalam bekas tidak diambil. Pelik! Selama ini Laila tak pernah lupa.. 'Kalau tak suka pulangkan,'

Kali ini dia benar-benar menangis. Laila dan anak-anak terus tak pulang selepas pagi itu. Hari-harinya tak lagi diganggu dengan gelagat anak-anak. Rumah terus sunyi dan sepi. Tetap dia tak dapat tidur dengan lena. Di halaman belakang hanya ada kenangan. Kelibat anak-anaknya bergumpal dan berlari mengejar bola tak lagi kelihatan. Riuh anak-anak bila mandi di bilik air juga tidak lagi kedengaran. Dia mula dihambat rindu. Hanya ada kesunyian di mana-mana. Hanya tinggal bola yang terselit di rumpun bunga.

Selaut rindu mula menghambat pantai hatinya. Laila…

Benarlah, kita hanya tahu harganya bila kita kehilangannya.

Laila terus tak pulang sekalipun dia berjanji untuk berubah. Laila pergi membawa anak-anaknya pagi itu bila kereta mereka dirempuh sebuah kereta lain yang dipandu laju. Laila pergi tanpa meninggalkan satu pun untuknya. Laila pergi membawa Aimin, Aiman, Amirul dan zuriat yang bakal dilahirkan dua bulan lagi..

Dia menangis semahu-mahunya bila menatap wajah lesi anak-anak dan isterinya. Dia meraung memeluk tubuh Laila yang berlumuran darah. Hakikatnya Laila adalah kitab lama itu, lapuk bagaimana pun dipandangan harganya tak terbanding, dan kerana keengganannya Laila dipulangkan.

Wednesday, December 2, 2009

Warga Nigeria, Liberia, Cameroon 'bermasalah'

Warga Nigeria, Liberia dan Cameroon dikenal pasti sering terlibat dalam kegiatan jenayah di negara ini berikutan keadaan ekonomi dan sosial penduduk di negara asal masing-masing.

Perkara itu diakui seorang pelajar sarjana warga Afrika yang sedang melanjutkan pengajian di sebuah universiti tempatan di sini.

Pelajar dikenali sebagai Albert itu berkata, latar belakang penduduk yang secara semula jadinya dibesarkan dalam situasi 'kasar' mendorong mereka terikut-ikut dengan gaya hidup yang sama di negara orang.

"Mereka memang dikenali sebagai golongan yang berani berhadapan dengan risiko bagi mendapatkan apa jua mereka inginkan," katanya.

Pada masa sama Albert sedia maklum mengenai penglibatan golongan itu dalam jenayah termasuk black money.

Ditanya mengenai senario itu, Albert menjelaskan, kelonggaran kolej swasta di negara ini memberi tempat kepada warga asing bagi melanjutkan pelajaran telah disalahgunakan sebagai 'senjata' untuk mendapatkan pas pelajar.

"Niat sebenar mereka bukanlah belajar sebaliknya melakukan 'kerja' lain di sini.

"Ramai antara mereka tidak mendapat keputusan cemerlang. Tetapi menghairankan kolej tersebut masih 'menyimpan' mereka dengan hanya alasan mereka membayar yuran. Kenapa tidak membuang saja mereka?" soalnya.

Pada masa sama dia mengakui bukan semua warga Afrika yang memasuki negara ini mempunyai niat sebegitu.

Sebaliknya, kata beliau, ada antara mereka yang memasuki negara ini untuk menuntut ilmu kerana kelulusan pengajian di Malaysia mendapat pengiktirafan di negara mereka.

"Golongan yang terlibat dengan jenayah terutama black money boleh dikenali dengan memiliki kereta dan tinggal di kondominium mewah selain gemar berbelanja besar.

"Mereka memang gemar mendapat duit dengan cara mudah dan pantas. Itu yang mendorong mereka sehingga ada yang terlibat dalam kegiatan penyeludupan dadah," katanya.

Menurutnya, kemewahan golongan itu kadang kala menyebabkan sebahagian gadis tempatan 'jatuh' ke tangan mereka.

Albert juga mengaku warga Afrika memang pandai memujuk untuk menarik perhatian seseorang gadis.

"Trend terkini yang dapat dilihat adalah kecenderungan warga Afrika mengahwini gadis tempatan untuk mendapat 'keistimewaan' di sini," katanya.